Lanjut ke konten

SUNNAH-SUNNAH YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT JUM’AT

Juli 15, 2013

Pertama: Datang Ketempat Shalat Jum’at Lebih Awal.

Sabda Rasulullah saw.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ  =متفق عليه=

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub kemudian dia berangkat ke masjid, maka seakan-akan dia berkurban dengan unta. Barangsiapa berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan dia berkurban dengan sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan kambing yang bertanduk. Barangsiapa berangkat pada waktu keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan ayam. Dan barangsiapa berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan dia berkurban dengan telur. Jika imam (khatib) telah datang, maka Malaikat akan hadir untuk mendengarkan Khutbah.” (HR. Muttafqun Alaihi).

Maksudnya, para Malaikat itu menutup lembaran catatan pahala bagi mereka yang terlambat sehingga tidak mendapatkan pahala yang lebih bagi orang-orang yang masuk masjid (di saat khatib sudah naik mimbar). Pengertian tersebut diperkuat oleh hadits berikut ini:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقْعُدُ الْمَلَائِكَةُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَعَهُمْ الصُّحُفُ يَكْتُبُونَ النَّاسَ فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ طُوِيَتْ الصُّحُفُ قُلْتُ يَا أَبَا أُمَامَةَ لَيْسَ لِمَنْ جَاءَ بَعْدَ خُرُوجِ الْإِمَامِ جُمُعَةٌ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لَيْسَ مِمَّنْ يُكْتَبُ فِي الصُّحُفِ  =رواه احمد=

Dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, dia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Pada hari Jum’at para Malaikat duduk di pintu-pintu masjid yang bersama mereka lembaran-lembaran catatan. Mereka mencatat orang-orang (yang datang untuk shalat), di mana jika imam (khatib) telah datang menuju ke mimbar, maka lembaran-lembaran catatan itu akan ditutup.” Lalu kutanyakan, “Hai Abu Umamah, kalau begitu bukankah orang yang datang setelah naiknya khatib ke mimbar berarti tidak ada Jum’at baginya?” Dia menjawab, “Benar, tetapi bukan bagi orang yang telah dicatat di dalam lembaran-lembaran catatan.” (HR. Ahmad). Dinilai Hasan oleh Al-Albani.

Kedua: Mandi dan Memakai Wangi-Wangian.

Sabda Rasulullah saw.

عَنْ أَبِي بَكرِ بْنِ الْمُنكَدِرِ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ سُلَيْمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي سَعِيدٍ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَأَنْ يَسْتَنَّ وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ  =متفق عليه=

Dari Abu Bakar bin al-Munkadir, dia berkata, ‘Amr bin Sulaim al-Anshari pernah memberitahuku, dia berkata, Aku bersaksi atas Abu Sa’id yang mengatakan, Aku bersaksi bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Mandi pada hari Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang sudah baligh. Dan hendaklah dia menyikat gigi serta memakai wewangian jika punya.” HR. Muttafqun Alaihi).

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الْإِمَامُ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى  =رواه البخاري=

Dari Salman al-Farisi, dia berkata, Nabi saw bersabda: “Tidaklah seseorang mandi dan bersuci semampunya pada hari Jum’at, memakai minyak rambut atau memakai minyak wangi di rumahnya kemudian keluar lalu dia tidak memisahkan antara dua orang (dalam shaff) kemudian mengerjakan shalat dan selanjutnya dia diam (tidak berbicara) jika khatib berkhutbah, melainkan akan diberikan ampunan kepadanya (atas kesalahan yang terjadi) antara Jum’atnya itu dengan Jum’at yang berikut-nya.” (HR. Bukhari).

Catatan:

Ulama zhahir berpendapat mandi hari jum’at adalah wajib sesuai hadits diatas; namun mayoritas ulama menyatakan mandi jum’at adalah sunnah mu’akkadah, bukan wajib dengan dalil:

وَعَنْ سَمُرَةَ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r { مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ, وَمَنْ اِغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ }  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيّ ُ  ([1])

Dari Samurah Ibnu Jundab ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang berwudlu pada hari Jum’at berarti telah menjalankan sunnah dan sudah baik dan barangsiapa yang mandi maka itu lebih utama.” (HR. Imam Tujuh dan dinilai hasan oleh Tirmidzi).

Ketiga: Menempati Shaff Yang Paling Depan.

Sabda Rasulullah saw.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا … =متفق عليه=

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Kalau seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada panggilan (azan) dan shaff pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian maka pasti mereka akan mengundinya …  (HR. Muttafaqun ‘Alaihi).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ تَعْلَمُونَ أَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لَكَانَتْ قُرْعَةً  =رواه مسلم=

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda: “Seandainya kalian atau mereka mengetahui apa yang terdapat di shaff terdepan, niscaya akan dilakukan undian.” (HR. Muslim).

Keempat: Jangan Melangkahi Pundak Jama’ah Yang Sudah Datang Lebih Dulu.

Sabda Rasulullah saw.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَعَلَ يَتَخَطَّى النَّاسَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ وَآنَيْتَ  =رواه ابن ماجه=

Dari Jabir bin ‘Abdillah ra, bahwasanya ada seseorang masuk masjid pada hari Jum’at sedang Rasulullah saw tengah menyampaikan khutbah, lalu dia melangkahi orang-orang, maka Rasulullah saw bersabda: “Duduklah, karena sesungguhnya engkau telah mengganggu (orang-orang) dan datang terlambat.”  (HR. Ibnu Majah).

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ كُنَّا إِذَا أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَسَ أَحَدُنَا حَيْثُ يَنْتَهِي  =رواه ابو داود=

Jabir bin Samurah ra, berkatA: Adalah kami apabila kami datang kepada Nabi saw maka masing-masing kami duduk di tempat yang masih tersedia di majlis. (HR. Abu Daud) Di nilai shahih oleh Al-Albani.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ اثْنَيْنِ إِلَّا بِإِذْنِهِمَا  =رواه احمد=

Dari Abdullah bin Amar (bin ‘Ash) ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak halal bagi seseorang memisah di antara dua orang  kecuali seizin keduanya”. (HR. Ahmad) Dinyatakan shahih oleh Al-Albani.

Kelima: Masuk Masjid Langsung Tahiyyatul Masjid Walau Sedang Adzan.

Rasulullah saw, tidak pernah memberi nama yang khusus. Beliau hanya menyuruh para shahabat agar melakukannya dan menyatakan bahwa shalat itu adalah hak masjid. Sabda Rasulullah saw:

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْطُوْا الْمَسَاجِدَ حَقَّهَا، قِيْلَ: وَمَا حَقُّهَا؟ قَالَ: رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجْلِسَ  =رواه ابن خزيمة=

Dari Abu Qatadah ra, berkata: Bersabda Rasulullah saw: Berikanlah kepada masjid itu haknya. Ditanya: Apa haknya. Ia menjawab: Dua Rakaat sebelum engkau duduk.  (HR. Ibnu Khuzaimah).

Menunjukkan pentingnya shalat tahiyyatul masjid.

Sabda Rasulullah saw.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ النَّاسِ قَالَ فَجَلَسْتُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجْلِسَ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُكَ جَالِسًا وَالنَّاسُ جُلُوسٌ قَالَ فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ  =رواه مسلم=

Dari Abu Qatadah ra, Shahabat Rasulullah saw, ia berkata: Aku masuk masjid sedang Rasulullah saw sedang duduk diantara dua punggung orang, lalu aku pun duduk. Lalu Rasulullah saw bersabda: Apa yang mencegahmu untuk melakukan ruku’ (shalat) dua rakaat sebelum engkau duduk. Lalu aku berkata: Ya Rasulallah, Aku melihatmu duduk, dan orang-orang duduk juga. Beliau bersabda: Maka apabila masuk salah seorang dari kalian ke dalam masjid, maka hendaklah ia tidak duduk hingga ia shalat dua rakaat.  (HR. Muslim).

عَنْ عَمْرٍو سَمِعَ جَابِرًا قَالَ دَخَلَ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ  =متفق عليه=

Dari Jabir ra, berkata: Ada seorang laki-laki masuk pada waktu sholat Jum’at di saat Nabi saw sedang berkhutbah. Maka bertanyalah beliau: “Engkau sudah sholat?” Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: “Berdirilah dan sholatlah dua rakaat.” =HR. Muttafaq Alaihi=

Keenam: Tidak Berbicara Saat Khatib Sedang Khutbah.

Sabda Rasulullah saw.

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r { مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ اَلْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا, وَاَلَّذِي يَقُولُ لَهُ: أَنْصِتْ, لَيْسَتْ لَهُ جُمُعَةٌ }  رَوَاهُ أَحْمَدُ, بِإِسْنَادٍ لَا بَأْسَ بِهِ .  ([2]) وَهُوَ يُفَسِّرُ حَدِيثَ أَبِي هُرَيْرَةَ t فِي “اَلصَّحِيحَيْنِ” مَرْفُوعًا: { إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ: أَنْصِتْ يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ وَالْإِمَامِ يَخْطُبُ, فَقَدْ لَغَوْتَ }   ([3])

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa berbicara pada sholat Jum’at ketika imam sedang berkhutbah, maka ia seperti keledai yang memikul kitab-kitab. Dan orang yang berkata: Diamlah, tidak ada Jum’at baginya.” Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad tidak apa-apa, sebab ia menafsirkan hadits Abu Hurairah yang marfu’ dalam shahih Bukhari-Muslim. “Jika engkau berkata pada temanmu “diamlah” pada sholat Jum’at sedang imam sedang berkhutbah, maka engkau telah sia-sia.”

Ketujuh: Tidak Tidur Saat Khatib Sedang Berkhutbah.

Sebagian orang tertidur sementara khatib sudah berada di atas mimbar. Dan ini adalah kesalahan dan dia harus dibangunkan untuk mendengarkan nasihat. Dan disunnahkan bagi orang yang dihinggapi rasa kantuk untuk pindah dari tempatnya ke tempat lain di masjid. Sabda Rasulullah saw.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي مَجْلِسِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْهُ إِلَى غَيْرِهِ  =رواه احمد وابو داود والترمذي وابن حبان=

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk di tempat duduknya pada hari Jum’at, maka hendaklah dia pindah (bergeser) dari tempat itu ke tempat lainnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).

Kedelapan: Agar Menghadap Ke Arah Khatib.

Ada sebagian orang yang dalam mendengarkan khutbah Jum’at lebih senang bersandar ke dinding atau tiang dan tidak menghadap ke arah khatib, bahkan mereka membelakanginya. Dan ini jelas bertentangan dengan petunjuk para Sahabat Nabi di dalam khutbah Jum’at dan juga bertolak belakang dengan etika mendengar khutbah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا  =رواه الترمذي=

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, berkata, “Jika Rasulullah saw sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami langsung menghadapkan wajah kami ke arah beliau.” (HR. Tirmidzi).

At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ يَسْتَحِبُّونَ اسْتِقْبَالَ الْإِمَامِ إِذَا خَطَبَ

“Pengamalan terhadap hal tersebut dilakukan oleh para ulama dari kalangan Shahabat Nabi saw dan juga yang lainnya mereka menyunnahkan untuk menghadap ke khatib jika dia tengah berkhutbah.” (Sunan at-Tirmidzi: kitab al-Jumu’ah, bab Maa Jaa’a fii Istiqbaalil Imaam idzaa Khathaba).

Kesembilan: Agar Pindah Tempat Untuk Melakukan Shalat Sunnat Ba’diyyah.

Di antara kaum muslimin ada yang mengerjakan shalat Jum’at, setelah itu kemudian ia langsung berdiri dan mengerjakan shalat sunnat ba’diyah. Sabda Rasulullah saw.

عُمَرُ بْنُ عَطَاءِ بْنِ أَبِي الْخُوَارِ أَنَّ نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ أَرْسَلَهُ إِلَى السَّائِبِ ابْنِ أُخْتِ نَمِرٍ يَسْأَلُهُ عَنْ شَيْءٍ رَآهُ مِنْهُ مُعَاوِيَةُ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ نَعَمْ صَلَّيْتُ مَعَهُ الْجُمُعَةَ فِي الْمَقْصُورَةِ فَلَمَّا سَلَّمَ الْإِمَامُ قُمْتُ فِي مَقَامِي فَصَلَّيْتُ فَلَمَّا دَخَلَ أَرْسَلَ إِلَيَّ فَقَالَ لَا تَعُدْ لِمَا فَعَلْتَ إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ أَنْ لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ  =رواه مسلم=

Dari ‘Umar bin ‘Atha’ bin Abil Khuwar ra: “Bahwa Nafi’ bin Jubair pernah mengutusnya menemui as-Saib, anak dari saudara perempuan Namr untuk menanyakan kepadanya tentang sesuatu yang dilihatnya dari Mu’awiyah dalam shalat, maka dia menjawab, ‘Ya, aku pernah mengerjakan shalat Jum’at bersamanya di dalam maqshurah. Setelah imam mengucapkan salam, aku langsung berdiri di tempatku semula untuk kemudian mengerjakan shalat, sehingga ketika dia masuk, dia mengutus seseorang kepadaku seraya berkata, ‘Janganlah engkau mengulangi perbuatan itu lagi. Jika engkau telah mengerjakan shalat Jum’at, maka janganlah engkau menyambungnya dengan suatu shalat sehingga engkau berbicara atau keluar (dari tempatmu), karena sesungguhnya Rasulullah saw telah memerintahkan hal tersebut kepada kita, yaitu tidak menyambung shalat sehingga kita berbicara atau keluar.  (HR. Muslim).

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي مَقَامِهِ فَدَفَعَهُ وَقَالَ أَتُصَلِّي الْجُمُعَةَ أَرْبَعًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُصَلِّي يَوْمَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ وَيَقُولُ هَكَذَا فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  =رواه ابو داود=

Dari Nafi’ ra, bahwa Ibnu Umar ra, melihat seorang laki-laki shalat dua rakaat pada hari jum’at di tempatnya (tempat ia berdiri melakukan shalat jum’at), maka Ibnu Umar mendorongnya, dan ia berkata: Apakaha engkau akan shalat jum’at empat rakaat. Adalah Abdullah (bin Mas’ud) shalat ba’da jum’atnya dua rakaat dirumahnya, dan ia mengatakan: Beginilah Rasulullah saw menlakukannya.  (HR. Abu Dawud). Hadits Shahih.

Dalam riwayat lain dijelaskan.

قَالَ مُعَاوِيَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ أَنْ لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ  =رواه مسلم=

Mu’awiyah ra, berkata: Apabila engkau shalat jum’at, maka jangan engkau sambung dengan shalat lainnya hingga engkau berbicara atau engkau keluar. Karena sesungguhnya Rasulullah saw, menyuruh kami melakukan yang demikian itu bahwa jangan menyambung shalat dengan shalat lain hingga kami berbicara atau keluar (bergeser).  (HR. Muslim).

Kesepuluh: Tidak Meninggalkan Bershalawat Kepada Rasulullah saw Pada Hari Jum’at.

Banyak orang yang lalai untuk bershalawat atas Rasulullah saw pada hari Jum’at, meskipun keutamaannya sangat besar, pahalanya pun begitu melimpah, khususnya pada hari Jum’at. Sabda Rasulullah saw.

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ عَلَيْكَ صَلَاتُنَا وَقَدْ أَرِمْتَ يَعْنِي وَقَدْ بَلِيتَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ[4]  =رواه ابو داود والنسائي وابن ماجه واحمد=

Dari Aus bin Aus ra, ia berkata, Bersabda Rasulullah saw: Yang paling utama dari hari kalian adalah hari jum’at, hati itulah diciptakan Adam, padanya ia diwafatkan, padanya ditiup sangkakala dan padanya juga terjadi kiamat. Maka perbanyak kalianlah atasku shalawat pada hari itu, karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku, lalu para shahabat berkata: Ya Rasulallah, bagaimana sampainya shalawat kami kepadamu sedang engkau sudah sudah lenyap yaitu engkau sudah hancur. Ia bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan atas bumi memakan jasad para nabi alaihimus salam.  (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).


[1] – حسن. رواه أبو داود (354)، والترمذي (497)، والنسائي (3/94)، وأحمد (51 و 15 و 22)، وقال الترمذي: “حديث حسن”. قلت: وعزو الحافظ الحديث للخمسة وهم منه رحمه الله إذ الحديث ليس عند ابن ماجه، عن سمرة، وإنما عنده عن أنس. انظر “الجمعة وفضلها” لأبي بكر المروزي (31 بتحقيقي) والحافظ نفسه عزاه في “الفتح” لأصحاب السنن الثلاثة.

[2] – ضعيف. رواه أحمد (1/230/ رقم 2033)، وفيه مجالد بن سعيد، وهو ضعيف.

[3] – صحيح. رواه البخاري (935)، ومسلم (851). ومعنى: “لغوت”: قال الزين بن المنير: اتفقت أقوال المفسرين على أن اللغو ما لا يحسن من الكلام.

[4] تحقيق الألباني: صحيح ، الإرواء ( 4 ) ، المشكاة ( 1361 ) ، التعليق الرغيب ( 1 / 249 ) ، التعليق على ابن خزيمة ( 1758 ) ، تخريج فضل الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم ( 22 ) ، صحيح أبي داود ( 962 )

 

Iklan

From → Shalat

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: